Tampilkan postingan dengan label tidur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tidur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Desember 2010

Mengapa Lebih Banyak Bayi Meninggal di Tahun Baru?



Hanya dalam hitungan jam kita akan menyambut tahun baru. Berbagai kemeriahan sudah tampak di beberapa tempat. Untuk para orang tua yang sedang memiliki bayi, disarankan untuk tidak terlalu terlarut dalam euforia tahun baru ini, karena menurut penelitian terbaru, kejadian Suddent Infant Death Syndrome (SIDS) meningkat pada tahun baru.

SIDS adalah suatu kematian mendadak pada bayi yang sebelumnya sehat. Pada hasil otopsi biasanya tidak diketahui penyebabnya. SIDS ini merupakan penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada bayi usia 2 minggu-1 tahun, dan hampir selalu terjadi ketika tidur. Hal ini dikaitkan dengan posisi tidur tengkurap yang lebih sering menimbulkan apnea (henti nafas) sementara pada bayi.

Namun fakta yang mengejutkan mengenai SIDS datang dari David Phillips, ahli sosiologi dari Universitas California yang meneliti kasus SIDS dari tahun 1973 sampai 2006 di seluruh Amerika. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kejadian SIDS meningkat 33 persen pada setiap tahun baru. 

Penelitian ini memang tidak mencari tahu penyebab pasti SIDS tersebut, namun mereka berasumsi bahwa hal ini terkait dengan penggunaan alkohol yang lebih banyak dari biasanya pada tahun baru. Bayi dari ibu yang mengonsumsi alkohol mengalami SIDS dua kali lebih banyak dari yang bukan peminum. Phillips menyatakan bahwa orang yang dalam pengaruh alkohol akan mengalami gangguan dalam pengambilan keputusan dan tidak cakap dalam melaksanakan tugas, termasuk dalam hal mengasuh bayi. Kemungkinan si bayi tidak ditidurkan dalam posisi yang tepat oleh ibunya sehingga timbul apnea.

Untuk membandingkan apakah SIDS pada tahun baru ini lebih karena alkohol atau kurang tidur akibat pesta hingga dini hari, maka Phillips memeriksa jumlah kejadian SIDS pada musim gugur, dimana banyak orang tidur terlalu malam karena siang hari yang lebih panjang. Ternyata tidak ada peningkatan SIDS yang signifikan pada musim ini.

Namun tetap saja efek akumulatif dari kurang tidur akan sama seperti mabuk alkohol, sehingga pada malam tahun baru ini disarankan supaya tetap tidur cukup dan tidak mengonsumsi alkohol, terutama bagi mereka yang memiliki bayi.

Diolah dari berbagai sumber.

Selasa, 14 Desember 2010

Minum Vitamin Bisa Mengganggu Tidur?

Hampir semua orang pernah minum multivitamin, bahkan banyak yang sengaja minum multivitamin setiap hari dengan tujuan untuk meningkatkan stamina dan kesehatan. Namun apakah ada efek samping dari minum vitamin? Sejauh ini beberapa vitamin dengan dosis tinggi memang bisa menyebabkan gangguan di ginjal dan organ - organ lainnya. Ada pula beberapa laporan tidak resmi yang menyebutkan bahwa orang - orang yang minum vitamin mengalami gangguan tidur, yaitu durasi tidur singkat dan sering terbangun di tengah malam. Atas dasar itu pada tahun 2007 para peneliti melakukan penelitian terhadap ratusan orang dan meneliti pola tidur dan juga penggunaan vitamin dan obat-obatan mereka.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa orang-orang yang rutin meminum multivitamin mengalami gangguan tidur lebih tinggi dibanding mereka yang tidak minum multivitamin. Namun penelitian ini tidak menjelaskan apakah hubungannya berkebalikan, yaitu karena adanya gangguan tidur maka mereka cenderung minum multivitamin

Memang ada beberapa vitamin yang sudah diketahui dapat mengganggu tidur, misalnya vitamin B. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa minum vitamin B6 sebelum tidur dapat memicu mimpi yang menggebu-gebu yang dapat membangunkan tidur seseorang. Vitamin B6 membantu tubuh mengubah triptophan menjadi serotonin, hormon yang mempengaruhi tidur. Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa vitamin B12 dapat mempengaruhi kadar melatonin yang memicu kondisi siaga/terbangun. Jika memang multivitamin dicurigai sebagai pemicu gangguan tidur, solusi yang terbaik adalah multivitamin tersebut diminum pada pagi hari atau beberapa jam sebelum tidur.

Dikutip dari new york times health